17/04/2026
Picsart_25-04-05_03-26-52-227

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut aktifitas Gunung Gede meningkat sejak 1 April 2025 (foto: PVMBG).

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Klikpos.net – Aktivitas vulkanik Gunung Gede meningkat  sejak awal April 2025.  Otoritas terkait mencatat 47 kali gempa vulkanik, satu gempa tektonik lokal dan satu gempa tektonik jauh sejak 1 April 2025.

Meskipun status Gunung Gede dinyatakan masih normal (Level I), namun pihak berwenang mengingatkan adanya potensi letusan freatik maupun keluarnya gas berbahaya dari kawah gunung.

Untuk itu pihak Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) mengumumkan penutupan sementara seluruh jalur pendakian mulai 3 hingga 7 April 2025. Pendaki yang telah mendaftar diminta menjadwal ulang rencana pendakiannya.

Sedangkan warga masyarakat yang tinggal di sekitar kaki Gunung Gede juga diimbau untuk tetap waspada terhadap kemungkinan bahaya.

Menurut Humas Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) Agus Deni,  Gunung Gede berpotensi mengeluarkan gas gunung api yang berbahaya, terutama dalam radius 600 meter dari kawah Wadon.

“Tidak hanya pendakian yang kita tutup agar tidak ada yang mendekati kawan, masyarakat juga tetap kita imbau untuk waspada. Mengingat gunung gede statusnya masih aktif,” pungkasnya.

Sebelumnya, aktivitas Gunung Gede kembali menunjukkan peningkatan signifikan. Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Muhammad Wahid  mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada, terutama terhadap potensi letusan freatik dan hembusan gas beracun di sekitar kawah.

Menurutnya, lonjakan aktivitas kegempaan ini cukup signifikan dibandingkan kondisi sebelumnya. “Pada tanggal 1 April 2024, dalam rentang pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, terjadi peningkatan gempa Vulkanik Dalam (VA) hingga mencapai 21 kejadian. Sebagai perbandingan, rata-rata kejadian Gempa Vulkanik Dalam di Gunung Gede selama periode 1-31 Maret 2024 hanya berkisar 0-1 kali per hari,” kata Wafid di Bandung, Selasa (1/4/2025).

Peningkatan aktivitas ini, kata dia,  menunjukkan adanya tekanan yang meningkat di dalam tubuh Gunung Gede, yang berpotensi menyebabkan letusan freatik atau hembusan gas berbahaya jika konsentrasinya terlalu tinggi.

Meski aktivitas meningkat, PVMBG belum menaikkan status Gunung Gede dari Level I (Normal). Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental hingga 1 April 2024 pukul 10.00 WIB, aktivitas vulkanik Gunung Gede masih berada pada Level I (Normal). “Kami mengimbau masyarakat, pengunjung, dan wisatawan untuk tidak menuruni, mendekati, atau bermalam dalam radius 600 meter dari Kawah Wadon,” jelasnya.

Gunung Gede merupakan gunung api tipe strato dengan ketinggian 2.958 mdpl. Secara administratif berada di Kabupaten Cianjur, Sukabumi, dan Bogor, Jawa Barat. Pemantauan dilakukan secara visual dan instrumental dari Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) Gede di Desa Ciloto, Kecamatan Pacet, Cianjur.

Erupsi terakhir Gunung Gede terjadi pada 1957 dari Kawah Ratu, dengan kolom letusan mencapai 3.000 meter di atas puncak. Saat ini, aktivitas hembusan terpantau berasal dari Kawah Wadon, dengan ketinggian asap berkisar antara 50 hingga 100 meter selama Maret 2024. (Adenan M/Taufik BS)