28/09/2022
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Klikpos.net/Bogor – Pengurus Perhimpunan Periset Indonesia (PPI) Kota Bogor periode 2022-2025 resmi dikukuhkan. Terpilih sebagai Ketua Periset Indonesia Kota Bogor, Effendi Rahman.

Wali Kota Bogor, Bima Arya menyampaikan tiga arahannya kepada para pengurus PPI Kota Bogor yang baru saja dikukuhkan.

Pertama, penting bagi PPI Kota Bogor untuk mengambil ruang agar perubahan kota atau birokrasi pemerintahan bisa lebih diwarnai. Kedua, penting juga untuk melakukan peningkatan kapasitas keilmuan dan keahlian dari para periset untuk bisa beradaptasi dengan perubahan.

“Dan yang terakhir adalah perluasan jejaring yang dimiliki sehingga bisa saling menguatkan untuk mengambil peran poin pertama dan poin kedua,” kata Bima Arya secara virtual di ruang kerjanya, Balai Kota Bogor, Rabu (31/8/2022).

Menurut Bima Arya tantangan yang dihadapi saat ini banyak sekali, terutama isu-isu yang membahas tentang kesehatan dan pendidikan. Dimana hal tersebut mempengaruhi bonus demografi dalam rangka menyambut Generasi Emas Indonesia Tahun 2045

“Jika kita bisa mempersiapkan bonus demografi, menyelesaikan persoalan-persoalan terkait kesehatan dan pendidikan yang saat ini sedang mengemuka, dengan persiapan dan banyak kajian yang didukung oleh bimtek, maka tentu kita mampu untuk menyongsong Generasi Emas Indonesia 2045. Semoga kita bisa berkolaborasi dan bersinergi,” paparnya.

Selain tiga poin penting tersebut, Bima Arya berharap perubahan kota atau wilayah maupun reformasi birokrasi juga bisa dihasilkan dari gagasan atau kajian yang dihasilkan oleh para periset.

Dirinya mengaku sering mengistilahkan bahwa kota itu harus didorong oleh gagasan dan pengetahuan bukan oleh kepentingan. Pasalnya, jika kota didorong oleh kepentingan maka dampaknya hanya untuk sekelompok orang saja dan dalam jangka waktu yang pendek.

Baca Juga:  SESMUBI, Bima Arya Harap Bank Indonesia Ambil Peran Isu Lingkungan

Sementara jika ilmu pengetahuan dan pemahaman mendorong perubahan, maka dampaknya akan dirasakan lebih luas lagi.

“Tantangan terbesar dari birokrasi pemerintahan adalah bagaimana rencana pembangunan dihasilkan bukan hanya dari kepentingan-kepentingan proses yang sifatnya bottom up maupun top down, tetapi juga melalui pergumulan gagasan dan kajian. Jika gagasan-gagasan para pemikir dan para peneliti ini diberikan ruang atau wadah maka sangat mewarnai perubahan kota. Melalui peningkatan kapasitas keilmuan dan keahlian yang dimiliki para periset akan selalu relevan dan kontekstual,” jelasnya.

Di sisi lain, perkembangan yang terjadi sangat cepat, teknologi digital berlari dan terkadang tidak bisa dikejar perangkat daerah terkait, tetapi periset selalu meng-update hal tersebut, memperbaiki wawasan melalui jaringan yang dimiliki.

“Besar harapan saya seluruh anggota PPI bisa mengokohkan dan menguatkan jaringan para peneliti, sehingga saling meng-update serta memperbaharui pengetahuan yang dimiliki, karena riset dan penelitian tidak bisa dilakukan sendiri. Akan lebih powerfull dan efektif jika dilakukan dengan memaksimalkan jaringan yang dibangun,” katanya. (Adenan Manurung)