17/05/2022

Anggota Komisi VII DPR RI Samsu Niang dalam Rapat Panja BPIH Komisi VIII DPR RI bersama jajaran Kemenag, di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Rabu 16/3/2022 (Parlementaria/Jaka/Man).

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Klikpos.net/Jakarta – Komisi VIII DPR RI menilai usulan biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) tahun 1443H/2022M dari dari Kementerian Agama sebesar Rp42 juta terlalu tinggi.

Hal terebut terlebih lagi pada kondisi perekonomian Indonesia yang hingga kini belum pulih dalam situasi pandemi Covid-19 sementara perang Rusia-Ukraina juga diilai berpengaruh terhadap kenaikan harga minyak yang memengaruhi penerbangan.

Oleh karenanya Komisi VIII DPR RI sepakat untuk membahas kembali lebih dalam dan lebih detail terkait BPIH ini.

“Kami apresiasi penjelasan dari Dirjen Perjalanan Haji dan Umrah Kementerian Agama terkait biaya haji 2022 ini. Hanya perlu kami sampaikan di sini, bahwa untuk anggaran BPIH 2022 itu masih sangat tinggi, yakni Rp42 juta,” kata Anggota Komisi VII DPR RI Samsu Niang dalam Rapat Panja BPIH Komisi VIII DPR RI bersama jajaran Kemenag, di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Rabu 16 Maret 2022.

Samsu Nian berharap kalau bisa dikurangi karena tidak adanya di PCR dan karantina.

“Jadi kami menilai memang perlu pendalaman yang khusus oleh Panja ini. Karena terus terang, dalam kondisi sekarang ini, ekonomi masyarakat Indonesia sangat tidak bagus. Sehingga biaya haji di atas Rp40 juta, saya kira sangat memberatkan bagi masyarakat dan negara kita ini. Kami berharap minimal sama dengan periode lalu,” sambung politisi PDI-Perjuangan itu.

Baca Juga:  Ibu Iriana Akan Tinjau Vaksinasi Anak di Kota Bandung

Pihaknya melihat ada beberapa poin yang masih sangat tinggi, terutama dalam komponen penerbangan.

Saat ini biaya penerbangan mencapai Rp31 juta, sementara dalam BPIH tahun 2020 lalu Garuda Indonesia malah bisa diturunkan hingga Rp27 juta.

Samsu Niang meyakini, perlu ada negosiasi terkait penerbangan ini.

Begitupun halnya dengan komponen pemondokan, transportasi dan katering jemaah di Arab Saudi perlu dilakukan pendalaman khusus untuk menyatukan persepsi dalam menentukan BPIH tahun 2022 ini.

Hal senada juga diutarakan Anggota Komisi VIII DPR RI Subarna.

Ia mengungkapkan, kewajiban bagi DPR untuk menekan biaya haji tahun 2022 ini seefisien mungkin.

Namun dengan tetap mengedepankan keselamatan, kesehatan, dan keamanan bagi jemaah haji.

“Kalau kita lihat jomplang sekali BPIH antara tahun 2020 lalu dengan tahun 2022, yakni hampir Rp7 juta lebih. Sehingga perlu pembahasan lebih dalam lagi. Apakah kita perlu bahas lebih detail lagi supaya kita bisa menyisir per item (komponen-red),” ungkap politisi Partai Gerindra itu.

Sedangkan Anggota Komisi VIII DPR RI Endang Maria Astuti dariPartai Golkar itu sepakat agar pembahasan ini nantinya harus dibahas kembali secara rigid.

Pasalnya, ada beberapa komponen yang mengalami perubahan. Misalnya, jumlah makan di Madinah yang semula 18 kali menjadi 15 kali, kendati ia mempertanyakan asumsi yang membuat komponen ini turun 3 kali.

“Begitupun dengan komponen penerbangan yang tidak dapat dipungkiri karena konflik Rusia-Ukraina membuat harga minyak (biofuel) dunia ikut melambung. Apakah lantas hal ini juga akan memengaruhi biaya komponen penerbangan dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini? Ini yang harus kita bahas kembali bersama dengan direktur penerbangan,” tambah Endang. (Taufik BS)

 

Sumber: Parlementaria