17/05/2022
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Klikpos.net/Bogor-Wali Kota Bogor, Bima Arya menjadi narasumber pada Peringatan HUT PGRI ke-76 Tingkat Kota Bogor dengan tema ‘Pentingnya Pendampingan Psikososial Dalam Pembelajaran Tatap Muka Terbatas Pada Era Normal Baru’.

Pada kesempatan itu, Bima Arya menjelaskan bahwa pandemi Covid-19 yang telah berjalan hampir dua tahun bukan hanya soal ujian bagi kesehatan, tetapi juga ujian bagi sistem secara keseluruhan. Salah satunya sistem pendidikan yang tidak hanya pendidikan formal di sekolah, tetapi juga non formal.

Menurutnya, jika hari ini yang hadir disini atau luring maupun mengikuti daring, perspektifnya adalah protokol kesehatan. Hal itu dinilai sebagai sesuatu yang salah, namun jauh lebih dari sekedar isu kesehatan. Berbicara PTM tidak hanya bicara protokol kesehatan tetapi hal lainnya, salah satunya pola pengasuhan.

“Mendidik anak itu adalah menguji teamwork, makanya ada istilah parental teamwork dimana semua berperan dan memainkan fungsi,” ujar Bima Arya di Executive Lounge Lapangan Golf Bogor Heritage Field RSJMM, Jalan Semeru, Kota Bogor, Kamis (21/10/2021).

Dalam teori-teori psychosocial kata dia, banyak faktor yang menentukan hal tersebut. Pertama, yang paling menentukan adalah interaksi antara pengasuh dengan anak. Pengasuh yang dimaksud bukan asisten rumah tangga, tetapi semua yang dekat mengasuh, khususnya keluarga atau kerabat.

“Cara pengasuh berinteraksi dengan anak sangat membentuk anak asuhannya dan ini dipengaruhi intensitas waktu. Sebagai wali kota ini persoalan berat bagi saya, sejak tujuh tahun mengalokasikan quality time itu PR banget bagi saya. Selain koordinasi dengan jajaran Forkopimda dan jajaran Pemkot Bogor, anak-anak ini juga perlu. Jadi sangat tidak mudah, cara kita mengambil keputusan, kemudian kesehatan ibu, pengetahuan ibu dan pengetahuan yang mengasuh, ini juga menentukan dan mempengaruhi anak,” paparnya.

Baca Juga:  Ketua Patambor Jabodetabek Arya Manurung: Jaga Kekompakan dan Lekatkan Persaudaraan

Berdasarkan survei yang dilaksanakan ketika pandemi Covid-19, ada hal yang mengejutkan, dimana hasil survei menyebutkan bahwa mayoritas para ibu mengaku depresi dan mengalami hipertensi.

“Jika demikian bisa dibayangkan efeknya seperti apa, padahal ibu yang menentukan pola asuh bagi anak,” sebutnya.

Selain pola asuh langsung, dalam teori psychosocial ada kualitas lingkungan di rumah yang ragam bentuknya. Pandemi Covid-19 tidak hanya melahirkan anak-anak yang skill sosialnya menjadi lemah tetapi lebih dalam dari itu, yakni menjadikan anak paranoid.

Selama hampir dua tahun pandemi, Bima Arya mengaku telah menemukan karakter para anak dan para orang tua yang sangat terdampak. Menjadi khawatir ketika ketemu orang lain, salah satunya ada yang ditakuti-takuti sama oleh orang tuanya sehingga menjadi tidak seimbang ketika berinteraksi maupun berkomunikasi.

“Jika sudah seperti ini, tangan pertamanya itu bukan hubungan darah tapi teknologi sosial yang menjadi rimba belantara yang sangat sulit dikendalikan. Akhirnya peran pola asuh didalam diambil alih ‘üncle google’ dan ‘äunty youtube’ dan segala macam, itulah yang berperan disitu,” ungkapnya.

Menurut salah seorang yang sangat berpengaruh dalam teori psikososial, Erik Erikson yang dijadikan referensi oleh banyak guru dan pendidik, ada tahapan-tahapan yang sangat menentukan karakter orang tidak boleh terlewat, yakni tentang usia antara 6 hingga 11 tahun dan rentang usia antara 11 – 17 tahun.

‘Jika ini terlewat atau tidak maksimal, maka anak tersebut akan tumbuh melenceng,” jelasnya.

Dalam keadaan normal atau biasa sebelum pandemi Covid-19, menurutnya hal itu bisa terjadi, ketika anak-anak dikuasai oleh dunia maya, dipengaruhi oleh narkoba lewat mata (narkolema) dan sebagainya.

Di sisi lain, dalam kondisi dunia normal saja bonus demografi sudah menjadi PR, mempersiapkan para anak-anak muda sebagai generasi masa depan yang siap bertarung ketika menjadi usia produktif.

Baca Juga:  Satu Dekade, Handayani Geulis Persembahkan Batik Bogor Pisan

Bima Arya menyebut, Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas yang sudah berjalan selama hampir dua pekan, PR terbesar yang dihadapi bukan hanya sekedar memastikan protokol kesehatan. Tetapi juga harus memastikan tidak ada hal-hal yang hilang ketika anak-anak masuk sekolah.

“Merumuskan satu pola dimana prokes ditegakkan, ditaati, dipastikan ada tetapi komunikasi, pola interaksi, substansi metode yang disampaikan di sekolah tetap memberikan penguatan bagi karakter para siswa,” pungkasnya. (Adenan/Taufik)