Aksi Capt. Monroe dalam Film "Pertentangan".
Instansi pemerintah baik Pemkot, Polres, Kodim, Kejaksaan, Pengadilan dan instansi lainnya terlibat. Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) mendukung penuh. Sponsor yang semula tak pernah melirik Kota Sukabumi kini berdatangan dan mudah diajak bekerjasama. Semua media sosial dimanfaatkan untuk memperoleh efek bola salju. Kini kota telah mempunyai kalender even yang bergulir per tiga bulan sekali.
“Ikon utama kita Aya Aya Wae (Ada Ada saja-red). Event belangsung tiga hari di tengah kota dengan tiga panggung yang terus live dari jam 20.00 hingga 24.00 WIB. Semua karya ditampilkan, pagelaran dikerjakan sendiri oleh komunitas,” tandas Capt. Monroe kepada Klikpos.net yang menyambangi di ruang kerjanya, Kamis (13/2/2020).

Warga Kota Sukabumi meraih Rekor Dunia MURI (tangkapan layar Youtube).
Prestasi mulai diraih, ikon kuliner Sukabumi mulai dikenal. Warga kota inni juga berhasil memecahkan Rekor Dunia MURI (Museum Rekor Indonesia) untuk even “Membasuh Kaki Ibu” dari sisi jumlah peserta. Event yang diselenggarkan di tengah kota itu diikuti ribuan peserta, sekaligus berhasil menunjukkan bahwa kota ini tak kehilangan jati dirinya yang relijius. Ketika waktu sholat tiba, mereka yang menjalankannya segera berjamaah di lokasi yang tersedia. Tak heran saat ada gerakan umat Islam di Monas, Jakarta, waktu itu banyak warga Kota Sukabumi yang memilih berkarya di kotanya sendiri.
“Kita juga sudah menghasilkan beberapa film pendek. Di antaranya film laga ‘Pertentangan’ yang berdurasi 43 menit. Selain aksi laga kita tonjolkan Parkour (seni lompat pagar-red). Di situ saya berperan sebagai aktor utama, sutradara, penulis script, pengarah gaya dan lainnya. Make up, camera, lighting kita kerjakan sendiri. Pokoknya kita mulai dengan sarana dan prasarana yang ada dulu. Lalu hasilnya kita unggah di Youtube. Ternyata sekarang sudah ada iklannya sehingga sedikit banyak sudah menghasilkan. Kini semua stake holder terlibat, semua pimpinan ormas ikut main film. Muspida juga teribat dalam jingle-jingle yang selalu kita bikin untuk event,” jelas Capt. Monroe yang sejak remaja menguasai 8 cabang seni beladiri ini.
